Adaptasi Kebiasaan Baru Sidang Akhir Secara Virtual

Kehidupan selama masa pandemi menjadi sebuah aktivitas  baru yang menjadi sebuah kebiasaan. Mahasiswa tingkat akhir pun menyesuaikan diri untuk melanjutkan tugas akhir, melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing, dan sidang tugas akhir secara daring. Jika sidang secara luring (offline) dilakukan dalam ruangan tertutup yang dihadiri oleh mahasiswa, dosen penguji, dan dosen pembimbing, maka sidang secara daring dilakukan dalam meeting room virtual yang terdapat dalam aplikasi video conference seperti Zoom dan MS Teams. Tata cara sidang secara virtual dilakukan persis sama seperti sidang secara luring, yaitu dimulai dengan pembukaan, presentasi dari mahasiswa, dan tanya jawab oleh dosen penguji. Setelah mahasiswa mnyelesaikan presentasi dan tanya jawab, pemimpin sidang akan meminta mahasiswa meninggalkan (left) meeting room virtual supaya dosen penguji dapat mendiskusikan hasil penilaian yang sudah dilakukan. Setelah itu, mahasiswa diminta untuk kembali bergabung secara daring untuk mendengarkan pengumuman hasil sidang. Sebagian mahasiswa mungkin sedikit merasa hampa setelah selesai sidang virtual, karena tidak adanya selebrasi setelah sidang. Tidak ada pula teman-teman yang menunggu di koridor kampus sambil membawakan buket bunga dan balon warna- warni.

Menurut Michael Hananta, melaksanakan sidang secara virtual merupakan pengalaman pertama dan yang tidak akan terlupakan. Persiapan yang dilakukan juga menjadi lebih banyak dibandingkan dengan sidang secara luring, karena perlu menyiapkan koneksi internet yang stabil, memastikan kamera dan input suara berfungsi dengan baik, memilih lokasi yang tepat supaya tidak menganggu formalitas sidang, mempelajari cara memakai virtual background yang beretika, dan sebagainya. Sementara menurut Nynsca, pelaksanaan sidang secara virtual dapat membuatnya lebih tenang karena mendapat dukungan langsung dari keluarga. Hal yang terasa menegangkan dirasakan oleh Peter, karena mendapat jadwal sidang urutan pertama, di hari pertama, dan langsung diuji oleh dua guru besar SITH, yaitu Prof. Dr. Robert Manurung, M. Eng, dan Prof. Dr. Sri Nanan B Widyanto.

Hal tersebut pun dirasakan juga oleh Yasriza, suasana tegang sulit untuk dihilangkan, namun adanya sapaan hangat dengan menanyakan kabar dengan topik pembicaraan yang mengundang tawa dari dosen penguji dapat sedikit mencairkan suasana. Menurut Sagita, pelaksanaan sidang secara virtual membuat proses selebrasi terasa kurang, karena momen sidang yang merupakan momen terakhir kebersamaan bersama teman seangkatan hanya dapat dirasakan lewat ucapan di grup atau posting foto di media sosial. Sebagian besar pertanyaan yang diujikan selama sidang pun beragam, mulai dari optimasi peningkatan proses hingga pertanyaan dasar tentang sel, namun terdapat juga beberapa pertanyaan diluar ekspektasi dan sempat membuat mahasiswa bingung, namun tetap diberikan arahan agar pertanyaan dapat terjawab dengan baik. Mereka pun akhirnya merasakan senang dan lega usai dinyatakan lulus setelah sidang, meskpun mungkin masih terdapat beberapa kekurangan akibat kendala teknis yang terjadi selama pelaksanaan sidang berlangsung.

Menyelesaikan tugas akhir di masa pandemi, memang bukanlah suatu hal yang mudah. Setiap mahasiswa memiliki kendalanya masing-masing, seperti sulit beradaptasi untuk melakukan proses bimbingan secara daring karena belum menemukan metode komunikasi daring yang tepat untuk konsultasi, hilangnya semangat untuk melanjutkan tugas akhir, proses revisi yang menjadi lebih lama dan panjang, serta menuntut mahasiswa untuk mampu mengambil keputusan sendiri. Namun dari sanalah setiap mahasiswa akan ditempa untuk belajar. Dengan adanya pandemi ini mahasiswa akan dituntut untuk memanfaatkan teknologi yang dapat menunjang perkuliahan secara daring. Selain itu tugas akhir yang didesain secara berkelompok oleh program studi juga dapat memunculkan ide baru terkait standar perancangan proses, meningkatkan kemampuan bekerja dalam tim, belajar memahami karakter rekan kerja yang sangat berbeda, serta bagaimana memanfaatkan kelebihan dari masing-masing rekan kerja untuk memberikan performa tim yang baik.

Beberapa mahasiswa angkatan 2016 yang sudah menyelesaikan tugas akhirnya pun tetap menyemangati teman-teman lainnya dan mahasiswa angkatan 2017 yang baru akan melaksanakan tugas akhir di masa pandemi. Tugas akhir memang menguras waktu, tenaga, pikiran, karena merupakan proses yang panjang, tetapi nikmatilah prosesnya, dan tetap semangat meskipun kondisi saat ini sedang tidak mendukung. Manfaatkan masa pandemi untuk lebih banyak mengeksplorasi topik tugas akhir dan berusahalah mencintai topik tugas akhir yang sudah dipilih. Tekanan yang akan muncul selama pengerjaan tugas akhir akan sulit dihadapi bila tidak didukung oleh kecintaan dan passion kita terhadap topik tugas akhir yang kita kerjakan. Manfaatkan teknologi yang tersedia sebaik mungkin yang disesuaikan dengan kondisi saat ini. Kemudian, jangan biasakan menunda tugas ataupun tidak tepat waktu, buatlah target dan timeline agar pekerjaan lebih terstruktur dan terarah.

Segala kesalahan yang terjadi, semua kegagalan yang dialami saat pelaksanaan tugas akhir, pada akhirnya akan menjadi pengalaman yang berharga dan menjadi pembelajaran tersendiri baik dalam proses maupun setelah proses ini selesai. Jangan lupa untuk menjaga komunikasi antar anggota, check up on each other. Seberat apapun jalan yang dilalui akhirnya pasti akan terlalui juga, yang membedakan adalah bagaimana cara kita bertahan dan menghadapinya. Meskipun ada dalam kesulitan pasti ada jalan menuju lulus, jangan menyerah! Jangan takut juga untuk diskusi baik dengan dosen atau kakak tingkat, karena sukses kita bukan hanya berasal dari diri kita sendiri namun dari banyaknya bantuan dari orang di sekeliling kita, serta perbaiki kesalahan secekil apapun yang ada di dalam diri kita, supaya kesalahan kecil tersebut tidak menjadi kebiasaan dan memberikan dampak negatif bagi orang lain.

Berita Terkait

EnglishIndonesia