Belajar dari Rumah, Program Studi Rekayasa Hayati Melakukan Seminar Tugas Akhir Penelitian Secara Daring

Virus Corona (COVID-19) yang saat ini telah menjadi pandemik global, menyebabkan ITB mengeluarkan kebijakan untuk menjalankan kegiatan belajar-mengajar secara daring sebagai upaya pembatasan aktivitas (physical distancing) guna mencegah penyebaran virus Corona semakin meluas. Walaupun belajar dari rumah, dengan adanya teknologi mahasiswa dan dosen tetap dapat menjalankan proses perkuliahan seperti biasanya.Salah satunya adalah Seminar Tugas Akhir Penelitian mahasiswa angkatan 2016 yang dilakukan secara daring oleh Program Studi Rekayasa Hayati dengan memanfaatkan apikasi meeting online pada Senin, 6 April 2020. Kegiatan ini diikuti oleh Dr. Muhammad Yusuf Abduh selaku moderator dan dosen pembimbing, Khalilan Lambangsari, S.T., M.T., dan Khairul Burhan Hadi, S.T., M.T. selaku dosen penguji, dan mahasiswa peserta mata kuliah Seminar dan Sidang Akhir.

Terdapat tiga mahasiswa yang memaparkan hasil penelitian tugas akhirnya dalam seminar tersebut, yaitu Dennis Avima (Gambar 1), Abednego Kurio (Gambar 2), dan Ravelian Yulianto (Gambar 3)  dengan judul, “Biodegradasi Senyawa Lignoselulosa pada Kayu Manis (Cinnamomum burmanii) oleh Aspergillus awamori untuk Meningkatkan Perolehan Minyak Kayu Manis menggunakan Metode Soxhlet, Maserasi, dan Hidrodistilasi”. Setiap mahasiswa diberikan waktu 30 menit untuk melakukan persentasi dan tanya jawab yang diberikan oleh rekan lainnya dan dosen penguji.

Gambar 1. Persentasi Hasil Penelitian oleh Dennis Avima
Gambar 2. Persentasi Hasil Penelitian oleh Abednego Kurio
Gambar 3. Persentasi Hasil Penelitian oleh Ravelian Yulianto

Penelitian yang dilakukan ketiga mahasiswa tersebut dilatarbelakangi oleh tingginya jumlah ekspor kayu manis, namun harga jualnya tergolong rendah, sehingga perlu dilakukan pengolahanmenjadi produk yang memiliki harga jual yang lebih tinggi. Umumnya ekstraksi minyak kayu manis dilakukan menggunakan metode distilasi uap dengan tahapan yang banyak, namun menghasilkan rendemen yang rendah. Selain itu komponen dinding tumbuhan yang tersusun atas senyawa lignin, hemiselulosa, dan selulosa dapat menghambat keluarnya senyawa aktif dari bagian dalam sel tumbuhan, sehingga perlu adanya pemberian perlakuan biodelignifikasi. Salah satunya menggunakan jamur Aspergillus awamori melalui proses fermentasi sebelum dilakukannya ekstraksi.

Ekstraksi dengan menggunakan metode distilasi uap tanpa proses fermentasi hanya mampu menghasilkan rendemen minyak kayu manis sebanyak 1.17%, sementara penelitian yang dilakukan oleh Dennis, metode esktrasi minyak kayu manis dengan menggunakan metode soxhlet yang sebelumnya dilakukan proses fermentasi dengan menggunakan jamur Aspergillus awamori selama 9 hari mampu menghasilkan rendemen minyak kayu manis sebesar 3,01% dari berat kering dengan kandungan sinameldehid 79,68%. Sementara penelitian yang dilakukan Abednego, ekstraksi dengan menggunakan metode maserasi mampu menghasilkan rendemen minyak kayu manis 2,74% dengan kandungan sinameldehid 79,68%, dan ekstakasi dengan metode hidrodistilasi yang dilakukan Ravelian mampu menghasilkan rendemen minyak kayu manis sebanyak 2,09% berat kering dengan kandungan sinameldehid 76,05%.

Menurut Ravelian, hal yang berbeda dan paling terasa saat melakukan seminar daring adalah tidak hadirnya teman yang lain secara fisik sehingga menyebabkan euphoria setelah menyelesaikan seminar terasa berbeda. Menurut Mikha Hartani, salah satupeserta seminar, meskipun dalam pelaksanannya bisa saja terkendala dengan koneksi internet, namun pelaksaan seminar secara daring dapat berjalan dengan baik dan efektif, selain itu metode ini dapat mengurangi ketegangan mahasiswa saat melakukan persentasi, karena setiap mahasiswa dapat memposisikan diri dengan nyaman saat memaparkan hasil penelitiannya, dan diharapkan setelah ini semakin banyak teman lainnya yang termotivasi untuk segera menyelesaikan tugas akhir penelitiannya dan melanjutkan seminar.

Menurut Ravelian, hal yang berbeda dan paling terasa saat melakukan seminar daring adalah tidak hadirnya teman yang lain secara fisik sehingga menyebabkan euphoria setelah menyelesaikan seminar terasa berbeda. Menurut Mikha Hartani, salah satupeserta seminar, meskipun dalam pelaksanannya bisa saja terkendala dengan koneksi internet, namun pelaksaan seminar secara daring dapat berjalan dengan baik dan efektif, selain itu metode ini dapat mengurangi ketegangan mahasiswa saat melakukan persentasi, karena setiap mahasiswa dapat memposisikan diri dengan nyaman saat memaparkan hasil penelitiannya, dan diharapkan setelah ini semakin banyak teman lainnya yang termotivasi untuk segera menyelesaikan tugas akhir penelitiannya dan melanjutkan seminar.

Berita Terkait

EnglishIndonesia