Pengolahan Limbah Organik Menggunakan Larva Black Soldier Fly Selama Pandemi

Penulis : Adrian Rinaldo Odianda Sinaga 11217029

Pandemi akibat virus Covid-19 menyebabkan banyak kegiatan yang melibatkan orang banyak diberhentikan sementara, tak terkecuali kegiatan berkuliah di Kampus ITB. Pada pertengahan Maret 2020, saat penyebaran virus tersebut belum terlalu banyak, orang tua saya memerintahkan saya untuk pulang ke ruman di Pekanbaru. Keadaan menuntut saya untuk hanya berkegiatan di rumah, namun selain mengerjakan tugas kuliah, saya hampir tidak melakukan kegiatan apapun yang bermanfaat. Melihat hal tersebut, orang tua saya menantang saya untuk mencari kegiatan yang berkaitan dengan ilmu-ilmu yang dipelajari di kelas.

Pada saat itu saya sangat tertarik mengenai lalat tentara hitam / black soldier fly (BSF) dan penerapannya dalam pengolahan limbah, khususnya limbah organik. Terlebih lagi, saya pernah mempelajari pemanfaatan BSF untuk pemanfaatan limbah dari kegiatan kuliah, webinar, maupun diskusi dengan kakak tingkat saya di program studi Rekayasa Hayati. Saya pun mulai menggali lebih dalam perihal BSF ini dari membaca serta menonton video di berbagai platform omline seperti youtube, instagram, dan forum online. Untuk mendapatkan sumber yang valid, saya juga membaca berbagai buku dan jurnal ilmiah tentang bagaimana memperoleh dan memanfaatkan BSF dari lingkungan atau BSF liar.  Dari berbagai sumber tersebut, salah satu saran yang diberikan adalah dengan cara menampung limbah organik berupa campuran kulit buah, sisa bagian sayur yang tidak dimakan, biji buah, dan limbah pasar lainnya. Campuran limbah organik tersebut kemudian diletakkan di lingkungan yang diduga terdapat BSF.

Setelah menerapkan hal tersebut, diperlukan waktu kurang lebih 1 bulan untuk saya dapat melihat larva BSF di wadah yang saya buat. Selain itu, terlihat juga larva lalat lain selain BSF yang hidup di wadah sampah yang saya sediakan. Diperlukan waktu kurang lebih 1 bulan lagi untuk saya agar dapat memperoleh telur BSF yang dapat saya pindahkan untuk memulai batch pertumbuhan BSF yang baru. Pada batch yang baru ini, saya menambahkan sejenis penutup yang bertujuan untuk mencegah masuknya lalat selain BSF. Sayangnya, sama seperti batch awal, saya menghadapi permasalahan yang sama. Ditambah lagi, karena kondisi yang tertutup, kondisi limbah padat pada wadah menjadi lembab sehingga menghasilkan bau yang kurang sedap. Namun, secara umum sistem ini sudah cukup efisien dalam mengurangi limbah organik, serta menghasilkan beberapa produk seperti prepupa BSF yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan pada ayam/ikan.  Residu padat dan cair juga dapat dijadikan kompos dan pupuk cair setelah diolah lebih lanjut.

Tidak patah semangat, saya kemudian memulai batch penumbuhan larva BSF yang baru, menggunakan telur BSF yang saya peroleh dari batch sebelumnya. Terdapat beberapa perubahan kondisi yang saya lakukan, seperti meletakkan wadah limbah di tempat yang kering dan terkena sinar matahari. Setelah kurang lebih 1 bulan, saya hampir tidak menemukan larva lalat lain selain BSF, bau yang dikeluarkan limbah tersebut juga bisa lebih ditoleransi dibandingkan batch sebelumnya. Permasalah yang masih saya alami dari mulai batch pertama sampai terakhir adalah sulitnya memisahkan residu padat dan cair hasil produksi BSF serta memisahkan BSF yang telah siap untuk dimanfaatkan (prepupa) dengan BSF yang masih belum dapat dimanfaatkan (0-4 minggu). Namun, saya masih tetap mencari solusi untuk permasalahan tersebut.

Demikianlah cerita kegiatan “beternak” BSF yang saya lakukan di rumah selama pandemik, semoga bermanfaat dan menambah wawasan bagi para pembaca. Tetap sehat, tetap semangat, tetap produktif. Semangat pagi

Berita Terkait

EnglishIndonesia