Menyongsong Masa Depan, HMRH ITB Menyelenggarakan Seminar Nasional IBCE 2019 Bertemakan Revolusi Industri 4.0

Bandung, 3 Februari 2019 bertempat di Aula Barat ITB, Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati (HMRH) ITB menyelenggarakan seminar nasional yang merupakan puncak dari rangkaian acara Integrated Bioengineering Competition and Event (IBCE) 2019. Seminar IBCE 2019 yang diselenggarakan sebagai bentuk kontriusi HMRH terhadap perkembangan iptek tersebut mengusung tema besar ”Industry 4.0: Implementing Smart Factory as a New Perspective in Bioindustry”. Acara tersebut diawali dengan pembukaan secara resmi oleh Dekan SITH ITB, Prof. Dr. I Nyoman P. Aryantha dan berlangsung dengan meriah dengan adanya penampilan seni dari salah satu unit kebudayaan di ITB, juga pemaparan materi yang membuka luas wawasan mengenai revolusi industri 4.0 di bidang Bioindustri.

(Pambukaan simbolis Seminar Nasional IBCE 2019 oleh Dekan SITH ITB)

 

Seminar IBCE 2019 terbagi ke dalam dua sesi pemaparan materi. Sesi pertama yang dimoderatori oleh M. Naufal Hakim (Alumni yang juga Mahasiswa Berprestasi Rekayasa Hayati 2017) membahas sub tema “Building an Integrated System for Bioindustry to Face Fourth Industrial Revolution” dengan narasumber Bambang Riznanti ST, MT (Kepala Divisi Industri Kimia dan Farmasetika, Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Kimia, Farmasi, Tekstil, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika; dan Dally Chaerul Saffar ST, MSc. (Co-Founder dan direktur Bisnis PT Biops Agrotekno). Sementara pada sesi kedua, seminar IBCE 2019 dimoderatori oleh Syaripudin ST (Alumni yang juga Ketua HMRH ITB Tahun 2015) yang membahas sub tema mengenai “Valorization of Bioproduct for Preparing Fourth Industrial Revolution” dengan narasumber Dr. Ir. Priyono, DIRS (Direktur Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia) dan Dr. Ir. Agung P. Murtado, M.Agr (Direktur Operasional PT RNI Persero).

 

Sesi pertama seminar nasional IBCE 2019 membahas mengenai revolusi industri 4.0 di bidang bioindustri. Revolusi industri 4.0 sendiri memiliki ciri khas yang membedakannya dari revolusi industri sebelumnya, di antaranya adalah adanya integrasi pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), sistem Cloud technology, dan Big Data dalam keberjalanan indsutri. Dally C. Shaffar selaku Direktur Bisnis PT Biops Agrotekno yang juga merupakan alumni Rekayasa Hayati ITB, memaparkan implementasi IoT berupa produk Encomotion di perusahaannya, sebagai alat monitoring dan controlling irigasi pengairan pertanian dengan presisi yang terhubung internet.  Penerapan Encomotion yang praktis dalam pertanian, mampu meningkakan produktivitas panen sayuran hingga 40% dan menghemat penggunaan air serta pupuk hingga 40%. Senada dengan hal tersebut, Bambang Riznanti ST, MT juga menambahkan bahwa produksi berbagai jenis produk berbasis hayati dalam bioindustri sudah mulai menerapkan IoT, AI, sistem Cloud, dan Big Data untuk memaksimalkan efektifitas dan efisiensi proses dalam Bioindustri.

 

(Pemaparan Seminar Sesi 1 dan 2)

 

Seminar Nasional IBCE 2019 semakin menarik dengan adanya pemarapan pada sesi kedua yang mengulas tuntas penerapan konsep biorefinery di bidang biodinsutri yang beriaktan dengan revolusi industri 4.0. Pada kesempatan tersebut Dr. Ir. Agung P. Murtado menjelaskan mengenai disruption yang terjadi akibat adanya IoT, Big Data, dan lainnya adalah sebuah peluang inovasi bekelanjutan dalam industri berbasis hayati atau bioindustri. Beliau menambahkan penerapan biorefinery juga menjadi salah satu kunci utama dalam mempersiapkan revolusi industry 4.0, karena dengan konsep tersebut keberlanjutan atau sustainability dapat diwujudkan. Hal serupa juga dikuatkan oleh narasumber kedua dari Pusat Penelitian Biotekologi dan Bioindustri Indonesia yang sedang menggencarkan penerapankonsep biorefinery untuk keberlanjutan yang selaras dengan SDG’s 2030. Sebagai bukti nyata, beliau memaparkan berbagai riset, inovasi dan teknologi di PPBBI yang berkenaan dengan biorefinery, salah satu dari sekian banyaknya adalah pemanfaatan limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) menjadi berbagai jenis bioproduk, seperti bahan bakar nabati, senyawa kimia, pakan ternak dan pupuk organik.

(Penyerahan Juara Kompetisi LKTIN Mahasiswa IBCE 2019)

 

Acara seminar IBCE 2019 berjalan lancar dan memberikan gambaran yang konkret mengenai perkembangan keilmuan rekayasa hayati terutama kaitannya dengan Revolusi Industri 4.0 di bidang Bioindustri. Selain itu pemaparan yang komperhensif tersebut menjadi salah satu bentuk nyata dari usaha bersama untuk memaksimalkan keberadaan IoT, AI, Cloud Technology, dalam rangka meningkatkan efektifitas dan efisiensi bioindustri untuk masa depan yang berkelanjutan. Terakhir, meriahnya acara tersebut ditutup dengan pemberian hadiah kepada para juara kompetisi karya tulis ilmiah mahasiswa tigkat nasiolan yang telah dselenggarakan dari bulan November 2018.

 

 

Distulis oleh Asmik Rekayasa Hayati

 

 

Berita Terkait

IndonesiaEnglish