Talkshow Bersama Dosen di Lingkungan Program Studi Rekayasa Hayati

Sabtu 29 Agustus 2020, HMRH ITB melaksanakan talkshow untuk memperkenalkan bidang keilmuan serta Kelompok Keilmuan (KK) yang banyak terlibat di Program Studi Rekayasa Hayati. Acara ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan PPAB (Program Penerimaan Anggota Baru) dalam rangka memperkenalkan lingkungan program studi kepada mahasiswa angkatan 2019. Acara talkshow ini diisi oleh 3 perwakilan anggota kelompok keilmuan SITH yang mendukung proses pembelajaran di Prodi Rekayasa Hayati, yaitu Mochammad Firmansyah, S.T., M.Si. (Anggota KK Agoteknologi dan Teknologi Bioproduk), Neil Priharto, S.Si., M.T. (Anggota KK Bioteknologi Mikroba), Novi Tri Astutiningsih, S.Si., M.Sc. (Anggota KK Sains dan Bioteknologi Tumbuhan), dan Dr. Muhammad Yusuf Abduh (Ketua Program Studi Rekayasa Hayati).

Masing-masing dosen tersebut memperkenalkan anggota Kelompok Keilmuannya yang mengajar di Program Studi Rekayasa Hayati beserta kepakarannya. Pada kesempatan ini juga diberikan informasi terkait peluang dan kesempatan bagi mahasiswa yang ingin melakukan bimbingan untuk persiapan lomba dan keikutsertaan dalam proyek penelitian atau pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh dosen. Pak Neil pun menjelaskan, bagi mahasiswa yang ingin mengetahui buku atau jurnal terbaru yang ditulis oleh dosen dapat diakses pada website KK, perpustakaan SITH, google scholar, atau mengecek pada beberapa jurnal yang dilanggan oleh ITB.

Pada sesi diskusi tersebut Bu Novi juga menjelaskan pentingnya melakukan kolaborasi penelitian secara interdisiplin dan multidisiplin ilmu supaya kesulitan dan keingintahuan dalam suatu penelitian dapat terjawab, sehingga dalam setiap penelitian atau pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh dosen selalu bekerja sama dengan kelompok keilmuan atau program studi lain yang ada di ITB. Selain itu, para dosen juga berpesan kepada setiap mahasiswa untuk selalu aktif untuk mengikuti kegiatan perlombaan untuk mengasah softskill dan kemampuan berfikir, karena setiap perlombaan yang ingin diikuti oleh mahasiswa akan dibimbing oleh dosen dan pendanaanya pun dapat dibantu dengan mengajukan pendanaan ke Lembaga Kemahasiswaan (LK) atau SITH. Selain itu, Pak Firman pun menjelaskan secara singkat bagaimana kontribusi KK dalam proses pengajaran, yaitu setiap dosen ditugaskan oleh SITH untuk mengajar atau membimbing tugas akhir mahasiswa yang kepakarannya akan disesuaikan dengan capaian pembelajaran (outcomes) program studi.

Pada sesi berikutnya, Dr. Muhammad Yusuf Abduh tentang menjelaskan Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Non Reguler. Program ini bertujuan untuk melakukan sertifikasi kompetensi yang dimiliki oleh seorang lulusan sarjana teknik. Hingga saat ini belum terdapat Sub-Program Studi Rekayasa Hayati yang diselenggarakan oleh PSPPI ITB, karena masih dalam proses pengajuan badan kejuruan Rekayasa Hayati ke Persatuan Insinyur Indonesia (PII), namun tidak menutup kemungkinan jika alumni Rekayasa Hayati ingin menikuti sub-program studi teknik lainnya dengan menyesuaikan portofolio yang dimiliki dengan sub-program studi yang diambil.

Beliau juga menjelaskan mengikuti program profesi insinyur ini merupakan langkah awal untuk mendapatkan sertifikasi Insinyur Profesional Pratama (IPP), Insinyur Profesional Madya (IPM), atau Insinyur Profesional Utama (IPU) sesuai dengan pengalman masing-masing di bidang kerekayasaan.  Selain itu sertifikasi insinyur juga penting untuk mengetahui standar kompetensi seorang ahli saat mengerjakan suatu proyek ynag berbasis kerekayasaan dan kedepannya seorang dosen yang mengajar di bidang Teknik/rekayasa pun harus memilki sertifikasi insinyur.  Bagi alumni yang berminat untuk mengikuti program tersebut, terdapat 2 jalur yang disediakan oleh ITB, yaitu Jalur Rekognisi Lampau (RPL) untuk yang memiliki pengalaman kerja minimal 5 tahun setelah lulus pendidikan S1 dengan masa studi 1 (satu) semester, dan jalur regular dengan masa studi 2 (dua) semester.

Pada sesi terakhir, Dr. Muhammad Yusuf Abduh menjelaskan mengenai capaian pembelajaran Program Studi Rekayasa Hayati. Beliau juga menjelaskan bahwa tujuan pendidikan dan capaian pembelajaran yang disusun oleh Program Studi Rekayasa Hayati mengacu pada standar dan spesifikasi supaya dapat diterima oleh kebutuhan industri dan aspek lainnya. Untuk dapat mengases dan menilai mahasiswa mampu melakukan apa yang sudah diajarkan selama proses perkuliahan, dibuatlah standar capaian pembelajaran yang mengacu pada standar yang dibuat oleh IABEE (Indonesian Accreditation Board for Engineering) yang tergabung dalam Washington Accord. Dalam kesempatan ini juga, beliau menjelaskan mengapa memilih standar IABEE untuk dijadikan acuan, yaitu untuk menanamkan rasa nasionalisme bahwa Indonesia mampu menetapkan standar yang setara dengan level internasional, dan standar yang ditetapkan oleh IABEE telah disesuaikan dengan konteks dan kondisi yang ada di Indonesia. Untuk dapat mengetahui ketercapaian pembelajaran mahasiswa, dilakukanlah asesmen kepada mahasiswa yang berasal dari hasil ujian dan tugas pada mata kuliah yang titipkan salah satu capaian pembelajaran yang hasilnya akan dituangkan dalam Surat Keterangan Capaian Pembelajaran (SKCP) saat mahasiswa lulus dari Prodi Rekayasa Hayati.

Setelah proses pemaparan dan diskusi, acara ini pun ditutup dengan foto bersama pemateri dan peserta PPAB. Ruth pun salah satu peserta PPAB sangat mengapresiasi acara talkshow tersebut, karena dengan adanya acara ini dapat membuka wawasan dan lebih mengetahui tentang keseharian di Program Studi Rekayasa Hayati, selain itu dapat juga memberi gambaran terkait rencana studi yang akan dilakukan selama 3 tahun kedepan, dan diharapkan dalam berjalannya waktu belajar di Program Studi Rekayasa Hayati dapat menemukan ide dan kesempatan untuk membangun bisnis di bidang kehayatian.

Berita Terkait

EnglishIndonesia