Inovasi Mahasiswa untuk Jawa Barat : Kompetisi Inside-Outside

Penulis   : Fakhira Rifanti Maulana, S.T.

Foto Bersama Pemenang Kompetisi Inside-Outside dengan Para Juri

JATINANGOR, SITH.ITB.AC.ID – Dalam rangka mendukung realisasi ide kreatif mahasiswa, Program Studi Rekayasa Hayati ikut berkontribusi dalam ajang sayembara Inside-Outside yang dilaksanakan oleh Biorefinery Society (BIOS) dan KK Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk (ATB). Kompetisi ini mengajak mahasiswa untuk merancang Mobile Depulper Unit (MDU) dengan tema “Valorisasi Kopi Jawa Barat”. Rangkaian perlombaan yang dimulai pada 12 Maret 2018 hingga 26 April 2018 ini mengundang dosen dari KK ATB sebagai juri yang juga merupakan dosen di Program Studi Rekayasa Hayati yaitu Dr. M. Yusuf Abduh,  Annisa Ratna Nurillah, S.T., M.Si dan Khairul Hadi Burhan, S.T., M.T.. Selain itu, Dr. Asep Hidayat dari Rekayasa Pertanian yang juga dari KK ATB ikut menjadi juri  beserta CEO BIOS yaitu Bagoes Inderaja (Alumni Rekayasa Hayati). Setelah penjurian yang dilaksanakan di Ruang Seminar, Gd. Labtek 1A, Kampus ITB Jatinangor (29/0418), desain mesin oleh Tim AgriChine yang beranggotakan Abdul Aziz Ibnu Husni (Rekayasa Pertanian 2015), Yuzar Arigi (Teknik Mesin 2015) dan Fikri Barry Alfian (Teknik Mesin 2015) dinyatakan sebagai pemenang. Tim berhasil mendesain sebuah inovasi mesin pulper dengan judul “Rancang Bangun Mesin Pulper yang Terintegrasi dengan Alat Penyortir Ceri Kopi untuk Meningkatkan Produktivitas Kopi Kelompok Tani Mekar Barokah, Sumedang”. Berikut adalah ulasan wawancara dengan tim pemenang.

Mesin Pulper di Desa Cibacang (kiri) dan Rancangan Mesin Pulper oleh Tim AgriChine

Dari Mahasiswa dan untuk Masyarakat

Dipaparkan oleh tim, motivasi awal mengikuti lomba ialah adanya keinginan kuat sebagai mahasiswa untuk membuat karya-karya nyata bagi masyarakat dan tim melihat permasalahan langsung di masyarakat. Salah satu anggota, Abdul Aziz, menjelaskan bahwa di dusun Cibacang, Sumedang terdapat Kelompok Tani Mekar Barokah yang mengelola sistem pertanian kopi. Di dusun tersebut memang sudah ada mesin pengupas kopi (pulper unit) namun pada kenyataannya, petani masih memiilki masalah yaitu tidak bisa mengupas ukuran kopi yang berbeda. Hal ini menyebabkan petani harus menyortir kopi secara manual. Dari titik inilah Aziz menghubungi 2 rekannya dari jurusan Teknik Mesin untuk ikut berkolaborasi menyelesaikan masalah. Tim kemudian mendesain mesin pulper dengan beberapa inovasi salah satunya terdapat alat penyaring agar masyarakat tidak perlu menyortir ukuran biji kopi ketika menggiling.

Perlombaan rancang mesin memberikan tantangan tersendiri bagi pemenang. Tim berpendapat bahwa waktu merupakan tantangan utama dimana mereka harus menyelesaikan desain dalam waktu yang singkat. Idealnya, perancangan mesin dilakukan dalam waktu 6 bulan. Terlebih lagi, tim berasal dua jurusan di lokasi perkuliahan yang berbeda, Jatinangor dan Ganesha, sehingga jarak jauh serta waktu luang juga menjadi tantangan. Walaupun demikian, tim tetap mampu keluar sebagai juara di ajang kompetisi ini.

Selain tantangan, terdapat pula pengalaman berharga yang Tim AgriChine bagikan. Kolaborasi menjadi hal yang digarisbawahi bagi tim untuk membantu menyelesaikan masalah pada aspek mesin pertanian. Menurut mereka, dalam mendesain mesin, kajian yang mendalam dari sumber-sumber lain dan perhitungan yang matang sangat penting untuk dilakukan. Selain itu, tim menekankan bahwa pengalaman terjun di masyarakat secara langsung akan memudahkan mahasiswa dalam mengetahui inti permasalahan sehingga dapat membuat suatu solusi atau teknologi yang tepat guna. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Aziz, Yuzar dan Fikri yang rancangan mesinnya berdasarkan kebutuhan masyarakat di Cibacang walaupun desain tersebut masih belum sepenuhnya dapat diaplikasikan.

“Untuk teman-teman, silahkan berkarya dimana pun. Baiknya, teknologi yang dirancang akan berguna jika berasal dari air mata masyarakat”, tutur Aziz.

Harapan ke Depannya

Proses Penjurian Rancangan Mesin Pupler oleh Tim AgriChine

Kegiatan perlombaan desain mobile pulper unit ini menjadi kegiatan yang bermanfaat bagi Tim AgriChine. Tim menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada panitia penyelenggara dan juri yang memberi banyak masukan untuk desain. Walaupun perlombaan Inside-Outside sudah berakhir, ke depannya alat-alat tepat guna yang dibutuhkan masyarakat Indonesia akan lebih banyak. Mereka berharap agar perlombaan dapat terus diadakan untuk menggali inovasi-inovasi tepat guna lainnya dan bahkan dapat direalisasikan dan membantu masyarakat. Di akhir, Yuzar mengungkapkan kelanjutan dari ide Tim AgriChine.

“Setelah ikut lomba ini, kami masih mempunyai banyak harapan. Dari hasil rancangan kami akan membuat prototype-nya agar dapat mengevaluasi kinerja mesin tersebut. Harapannya, mesin ini dapat bisa bermanfaat untuk masyarakat di kemudian hari,” jelas Yuzar.

Berita Terkait

IndonesiaEnglish