Seleksi Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Rekayasa Hayati 2020

Pada Senin, 24 Februari 2020 telah dilaksanakan proses seleksi mahasiswa berprestasi tingkat program studi untuk diikutsertakan dalam seleksi mahasiswa berprestasi tingkat fakultas (SITH) dan ITB. Proses seleksi diawali dengan pengumpulan data prestasi akademik dan non akademik dari seluruh mahasiswa Rekayasa Hayati angkatan 2017. Dari proses tersebut terpilihlah tiga calon mahasiswa berprestasi, yaitu Renard Elyon Imawanto, Jovita Monica, dan Adam Muhammad Syach (Gambar 1) yang membuat mereka merasa kaget, senang, dan tidak menyangka dapat terpilih menjadi calon mahasiswa berprestasi. Ketiga kandidat tersebut kemudian diwawancarai oleh Kaprodi Rekayasa Hayati, Dr. Muhammad Yusuf Abduh, dengan berbagai jenis pertanyaan seputar pengalaman, personality, penghargaan yang pernah didapatkan, alasan mengapa harus menjadi mahasiswa berprestasi, serta kemampuan berbahasa asing (Gambar 2).

Gambar 1. Calon mahasiswa berprestasi Rekayasa Hayati 2020
Gambar 2. Seleksi wawancara kandidat mahasiswa berprestasi Rekayasa Hayati 2020

Bagi Jovita, kuliah di ITB menjadi pengalaman pertamanya untuk mampu hidup sendiri, sehingga memacu diri untuk dapat merubah gaya hidup menjadi lebih baik, beradaptasi dengan lingkungan baru, serta mampu untuk belajar secara mandiri. Meskipun jauh dari orang tua, Jovita ingin menunjukan bahwa ia mampu belajar dengan baik serta memiliki nilai akademik dan prestasi yang cemerlang, hal tersebut sudah ia buktikan dengan menjadi 10 mahasiswa dengan nilai akademik terbaik di angkatan serta memiliki berbagai penghargaan, dan mendapatkan beasiswa. Selama menjadi mahasiswa, Jovita pernah menjadi Juara 1 dan Best Presentation dalam Lomba Pekan Inovasi Mahasiswa Pertanian Indonesia (PIMPI) yang dilaksanakan oleh Institut Pertanian Bogor serta Juara 2 lomba karya tulis ilmiah Volcano Scientific Competition (VOSICO) yang dilaksanakan oleh Universitas Negeri Malang.

Untuk Adam, beliau selalu berkeinginan untuk menjadi siswa beprestasi sejak dari SMA. Hal tersebut pun ia  tunjukkan dengan mendapat beasiswa penuh di SMA Unggulan Chairul Tanjung Fondation dan bergabung dalam tim olimpiade ilmu komputer. Meskipun pada awalnya tidak terlalu menguasai bidang ilmu komputer, tetapi Adam tetap semangat untuk terus belajar sehingga membuatnya terbiasa belajar secara mandiri. Untuk meningkatkan prestasinya, setiap hari Adam selalu mempunyai daftar kegiatan yang akan ia lakukan mulai dari bangun tidur di pagi hari hingga malam yang membuatnya menjadi lebih teratur dan mempunyai tujuan yang jelas untuk menggapai mimpi. Meskipun pernah kecewa karena hanya mampu mengikuti olimpiade hingga tingkat provinsi, tetapi Adam tidak pernah menyerah dan terus bangkit karena ia mempunyai mimpi yang besar untuk dapat menjadi orang pertama yang mampu menjadi tulang punggung keluarga. Saat diterima menjadi mahasiswa SITH ITB, Adam merasa sangat senang sekaligus sedih karena harus meninggalkan keluarga di Medan untuk menuntut ilmu di Bandung. Meskipun pada saat masa TPB sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, tetapi Adam tetap mampu menjadi mahasiswa TPB berprestasi sehingga memunculkan semangat untuk terus berprestasi dan mendapatkan penghargaan lainnya. Selama kuliah di program studi Rekayasa Hayati, Adam memiliki mentor, yaitu Juang Arwafa Cita yang juga mahasiswa berprestasi tahun 2018 yang selalu memotivasi dan memberi semangat untuk tidak takut bermimpi dan terus berprestasi. Berbagai penghargaan telah Adam dapatkan, diantaranya adalah Best Paper Presenter  pada The 4th International Engineering Students Conference (IESC), menjuarai lomba karya tulis ilmiah seperti Volcano Scientific Competition (VOSICO) di Universitas Negeri Malang, The 5th KOIN (KIME on Ideas Competition) yang diselenggarakan Universitas Negeri Malang, dan Pekan Inovasi Mahasiswa Pertanian Indonesia (PIMPI) yang diselenggarakan Institut Pertanian Bogor.

Sementara keinginan untuk berprestasi Elyon muncul ketika duduk di bangku SMP yang mulai mengikuti olimpiade biologi serta masuk dalam keanggotaan klub kimia dan biologi. Alasannya memilih program studi Rekayasa Hayati karena ia tertarik dengan bidang bioteknologi. Pada awal perkuliahan di ITB, Elyon mampu menjalaninya dengan sangat baik, meskipun pernah mengalami kesulitan dan berada di masa terpuruk, namun Elyon tetap mampu menanggulangi keadaan dan tetap bersemangat karena adanya dukungan dari teman-teman sekitarnya. Selama menjadi mahasiswa di Rekayasa Hayati, Elyon pernah menjadi Juara Harapan I dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Engineering, Research, and Innovation Competition (ERIC) yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Yogayakarta, dan mengikuti International Engineering Conference.

Dari proses wawancara yang dilakasanakan dalam Bahasa Inggris tersebut, Kaprodi Rekayasa Hayati berharap salah satu mahasiswa  mampu memegang tongkat estafet sebagai mahasiswa berprestasi tingkat SITH dan menjadi wakil dalam pemilihan mahasiswa berprestasi tingkat ITB seperti Juang Arwafa Cita dan Levana Bernadetta. Dengan adanya proses seleksi mahasiwa berprestasi ini diharapkan dapat mempertahankan semangat mahasiswa untuk terus berprestasi, aktif mengikuti berbagai kompetisi, dan mendapatkan lebih banyak lagi penghargaan di bidang akademik dan non akademik.

Berita Terkait

EnglishIndonesia